Lagu Spiritual (spiritual song)Orang Jawa

Posted on February 5, 2011

0


Pada awalnya , istilahtradisi lisan merupakan cirri peradaban primitive. Tradisi merupakan bentuk warisan panjang.lisan adalah bentuk pewarisan yang khas. Tradisi lisan , adalahleluhur jawa yang abadi. Sebuah mutiara kultur leluhur yang hamper terlupakan oleh banyak orang , namun tetap bertahan . Tradisi itu ada, lestari, hidup, berkembang, tanpa paksaan dan tekanan.
Orang jawa yang masih terbelakang , belum melek huruf hamper selalu berkomunikasi secara lisan. Pengekspresian gagasan lisan dipandang paling enak dan relative murah. Karena hanya bermodalkan vocal saja, telah terjalin komunikasi intensif. Hubungan kolektif masyarakat jawa secara oral justru kental dengan tradisi-tradisi kultur leluhur yang amat berharga. Di dalamnya banyak menggunakan kode-kode khas yang penuh makna.
Tradisi lisan jawa telah berusia panjang , setua orang jawa berkomunikasi secara lisan..Tradisi ini merupakan kultur jawa asli. Setelah orang jawa mengenal huruf jawa atau huruf lainpun , tradisi lainpun tetap berkembang. Kehebatan tradisi lisan telah menuntun kehidupan orang jawa lebih eksis. Dari waktu ke waktu tradisi lisan jawqa memang terdesak oleh tradisi lain, tetapi tetap bertahan. Hal ini tak berarti tradisi lisan anti perubahan. Tradisi lisan sebagai sebuah karya kolektif tetap mampu menyesuaikan diri dalam komunikasi masyarakat. Tradisi lisan merupakan bagian dari kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun secara lisan sebagai milik bersama. Aneka tradisi lisan jawapun mulai tak sekedar pengisi waktu senggang, melainkan sebagai penyalur sikap dan pandangan , refleksi angan-angan kelompok, alat pengesahan aturan  social, dan sebagainya.Tradisi lisan merupakan wujud gagasankolektif sebagai khasanah budaya jawa. Adanya anggapan bahwa tradisi lisan jawa sebuah bentuk kultur kebodohan, tak tepat. Tradisi lisan jawa juga bukan sekedar aktualisasi orang main-main, kendatihal-hal ta\mpak “permainan” juga ada. Tegasnya , tradisi lisan jawa merupakan bentuk pancaran pemikiran orang jawa yang diwariskanoleh leluhur. Nenek moyang jawa selalu berwasiatagar generasi berikutnya ngleluri (mewarisi) tradisi lisan , sebagai bekal hidup. Dengan adanya warisan itu berarti banyak unsure penting dalam tradisi lisan jawa, yang dapat dijadikan pedoman hidup.
Lagu ilir-ilir memang cukup fleksibel maknanya. Lagu ini dapat ditafsirkan apa saja tergantung konteks dan kebutuhan. Berbagai aspek yang dapat termuat dalam lagu ini , antara lain ihwal religius, mistik, dan politik. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan ditafsirkan dalam kaitannya dengan religiusitas dalam lagu tersebut.

Ilir-ilir
Ilir-ilir tandure wus sumilir dak ijo royo-royo
Dak sengguh pengantin anyar
Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna kanggo masuh dodotira
Dodotira-dodotira , kumitir bedahing pinggir
Dondomana jlumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung gedhe rembulane mumpung jembar kalangane
Daksoraka sorak hore
“Ilir-ilir padinya mulai tumbuh menghijau
Kukira manten baru
Anak penggembala panjatkan blimbing itu
Meskipun licin panjatkan untuk membasuh kain
Dodotmu
Kain dodotmu tampak robek bagian tepi
Jahitlah hati-hati untuk menghadap nanti sore
Selagi besar rembulannya dan luas lingkarannya
Mari bersorak-sorak hore”

Lagu tersebut tiap-tiap baris memiliki makna yang berhubungan dengan aspek-aspek religius islam. Ilir-ilir tandure wus sumilir dak mijo royo-royo menandai makna makin subur dan terkenal agama islam di era para wali (sunan kalijaga). Waktu itu islamseperti kebangkitan tanaman padi tampak menghijau ,berkembang sedikit demi sedikit di pulau jawa. Dak sungguh penganten anyar , artinya agama islam memang dianggap keyakinan baru di jawa. Karena sebelumnya telah berkembang Hindu dan Budha, dan begitu pula agama jawa asli(kejawen). Kedatangan islam dianggap seperti pengantin baru, penuh tantangan. Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi, artinya penggembala panjatlah pohon belimbing itu. Ini menunjukan pada sikap penguasa di jawa, hendaklah am,bil bagian dalam penyebaran islam. Beelimbing yang memiliki segi lima , sebagai gambaran rukun islam ada lima hal. Penguasa diharapkan  cepat menjalankan rukun islam sebaik-baiknya, meskipun berat. Lunyu-lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira, artinya meskipun memanjat pohon belimbing tadi licin tetapi tetap harus diupayakan untuk mensucikan diri. Agama waktu itu sering dinamakan ageing aji, agama seperti pakaian atau kain dodot, yang harus disucikan. Dengan cara ini para penguasa akan bersih dari dosa.
Dodotira-dodotira, kumitir bedahing pinggir, artinya pakaianmu,agamamu ibarat telah robek atau porak poranda karena dicampuri ajaran-ajaran syirik. Dondomanajlumatana kanggo seba mengko sore, artinya jahitlah dengan teliti kain tadi untuk menghadap nanti sore. Maksudnya, agama yang telah rusak perbaikilah dengan pakaian baru, guna menghadap tuhan sewaktu-waktu. Mumpung gedhe rembulane mumpung jembar kalangane, artinya selagi besar rembulannya, selagi lebar lingkarannya. Maksudnya selagi masih ada kesempatan yang longgar cepat-cepat masuk islam. Daksoraka sorak hore, bersorak-sorak hore, bergembiralah kalian moga-moga dapat ampunan dan nanugrah dari Tuhan.
Lagu religius lebih nampak lagi pada foklor pesantren. Syair ini merupakan tradisi lisan yang dikembangkan sejak para wali.Foklor di bawah ini, nuansanya juga senada dengan lagu ilir-ilir di atas. Lagu lengkapnya berjudul tamba ati sebagai berikut :

Tamba ati

Tamba ati iku lima ing wernane
Ingkang dhingin maca Qur’an sak maknane
Kapingpindho sholat sunat lakonana
Kaping telu wong kang soleh kumpulana
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe
Sak kabehe sapa bias anglakoni
Insya Allah huta’ala ngijabahi

Gusti Allah kang kuwasa
Gawe kewan lan manungsa
Gawe srengenge lan mbulan
Gawe bumi lan wit-witan

Paring udan migunani
Kanggo nukulake wiji
Thethukulaken mikuwati
Kaya kenthang tela pari
Gusti Allah kang kuwasa
Nguwasani para manungsa
Sarta malih nerangaken
Ngganjar nyiksa mesthi nyata
Aja sira banget-banget
Nggonmu bungah ana donya
Malaikat juru pati
Ngawasake marang sira

Sauwise didhawuhi
Nuli tandang karo kandha
Aku iki mung saderma
Kowe ora kena semaya

Urip pisan kang waspada
Aja nganti kena godha
Ngelingana siksane Allh
Geni nraka luwih lara
Manggon donya pira suwene
Bebasan mung mampir ngombe
Tanah suwarga jatine
Amal becik iku sanguine

Di kalangan pesantren, lagu religius itu sering dinamakan pujian. Biasanya dilagukan menjelang shalat wajib, sambil menanti jamaah berkumpul. Ternyata lagu semacam itu justru mudah menyentuh hati masyarakat jawa. Jika dirinci, lagu tersebut memuat aneka hal tentang religiusitas, yaitu :
Pertama, membicarakan lima macam obat hatio yang sakit. Kelima obat hati itu, terdiri dari membaca Qur’an dan maknanya, sholat sunat, kumpul dengan orang sholeh, perut harus lapar(puasa), dan dzikir malam hari. Munculnya lima macam obat hati ini menunjukan bahwa selama ini hati kita sedang dilanda sakit.
Kedua, menunjukan kemahakuasaan Tuhan dalam mencipta, hewan, manusia, matahari, bulan, bumi, pepohonan. Tuhan pula yang menganugrahkan hujan yang berguna untuk menumbuhkan biji, dan sebagainya.
Ketiga, Tuhan akan menyiksa kepada siapa saja yang berdosa. Karena itu, di dunia janganlah terlalu bersenang-senang.
Keempat, malaikat pencabut nyawa akan tahu tindakan manusia dan segera mendapatkan perintah untuk mengambil nyawa, dan manusia tak kuasa menolaknya.
Kelima, hidup di dunia harus waspada, jangan sampai terkena godaan. Manusia harus ingat siksaan Tuhan lewat api neraka.
Keenam, hidup di dunia ibarat sekedar singgah minum, hidup yang kekal di surga, maka harus mencari amal baik.

Teori masa krisis dalam daur hidup berasal dari pemikiran M. Crawley dalam buku Tree of life dan dikembangkan oleh Avan Gennep dalam buku Rites de Passage (Koentjaraningrat, 197). Menurut kedua pakar tersebut selama hidupnya manusia mengalami berbagai krisis yang sangat ditakuti oleh manusia dank arena itu ia menjadi obyek penelitiannya. Masa krisis yang ditakuti oleh manusia terutama adalah maut dan sakit yang menyebabkan segala kepandaian, harta dan kekuasaan yang dimilikinya tidak berdaya. Selama daur hidupnya manusia memiliki masa-masa genting, saat yangmudah sakit atau tertimpa bencana misalnya, masa balita, masa kanak-kanak, saat peralihan masa-masa usia, masa hamil, masa melahirkan, dan saat manusia mati. Pada saat seperti itu manusia menyadari perlu Tuhan dank arena itu timbul agama.
Agama memiliki peranan menambah kemampuan manusia mengatasi kelemahan hidupnya dapat dipahami dari kasus-kasus dalam kehidupan umat manusia. Sebagaimana diketahui manusia senantiasa berada dalam keadaan yang digolongkan dalam kategori saling berlawanan, yaitu bahagia dan menderita, gembira dan sedih, suka dan duka,sehat dan sakit,untung dan rugi, mendapatkan dan kehilangan sesuatu yang berharga dan seterusnya. Pada saat manusia serta tercukupi kebutuhannya dan sehat manusia cenderungbahagia atau merasa beruntung dalam hidupnya. Dalam situasi seperti itu manusia sering tidak membutuhkan agama. Pada saat lain ketika mengalami kekurangan,sakit, dan kemalangan hidup,manusia akan merasa menderita atau merasa merugi hidupnya. Pada saat mengalami masa sulit hidupnya sering putus asa atau bahkan banyak yang ingin bunuh diri. Ketika manusia sedang merasa lemah dalam hidupnya manusia membutuhkan penguat untuk dapat bertahan.Pada saat manusia menghadapi kondisi seperti itru agama akan menjadi fungsional. Agama dapat berperan memberikan penguatan kondisi psikologis.
Pemahaman bahwa agama dapat menambah intensitas pengalaman bersama atau intensitas pergaulan social dapat dilihat dari kegiatan ritual kelompok-kelompok keagamaan. Orang-orang memiliki kelompok keagamaanyang sama mereka saling bertemu dan melakukan kegiatan ritus bersama. Pertemuan-pertemuan dalam ritus tersebut memberikan pengalaman bersama dan meningkatkan intensitas pergaulan social.

Posted in: Uncategorized