ANALISIS LEGENDA DANAU TOBA Cerita Rakyat Sumatera Utara : Legenda Danau Toba

Posted on January 23, 2011

0


Pada jaman dahulu, hiduplah seorang pemuda tani yatim piatu di bagian utara pulau
Sumatra. Daerah tersebut sangatlah kering. Pemuda itu hidup dari bertani dan mendurung ikan,
hingga pada suatu hari ia mendurung,sudah setengah hari ia melakukan pekerjaan itu namun tak
satu pun ikan di dapatnya.
Maka dia pun bergegas pulang karena hari pun mulai larut malam, namun ketika ia
hendak pulang ia melihat seekor Ikan yang besar dan indah , warnanya kuning emas. Ia pun
menangkap ikan itu dan dengan segera ia membawa pulang ikan tersebut, sesampainya di rumah
karena sangat lapar maka ia hendak memasak Ikan itu tetapi karena indahnya ikan itu.
Dia pun mengurungkan niatnya untuk memasak ikan itu, ia lebih memilih untuk
memeliharanya, lalu ia menaruhnya di sebuah wadah yang besar dan memberi makannya,
keesokan harinya seperti biasanya ia pergi bertani ke ladangnya, dan hingga tengah hari Ia pun
pulang kerumah, dengan tujuan hendak makan siang, tetapi alangkah terkejutnya dirinya, ketika
melihat rumahnya, didalam rumah nya telah tersedia masakan yang siap untuk di makan, ia
terheran heran, ia pun teringat pada ikannya karena takut di curi orang, dengan bergegas ia lari
ke belakang, melihat ikan yang di pancingnya semalam.
Ternyata ikan tersebut masih berada di tempatnya, lama ia berpikir siapa yang melakukan
semua itu, tetapi karena perutnya sudah lapar , akhirnya ia pun menyantap dengan lahapnya
masakan tersebut.Dan kejadian ini pun terus berulang ulang, setiap ia pulang makan, masakan
tersebut telah terhidang di rumahnya.
Hingga pemuda tersebut mempunyai siasat untuk mengintip siapa yang melakukan semua
itu, keesokan harinya dia pun mulai menjalankan siasatnya, Ia pun mulai bersembunyi diantara
pepohonan dekat rumahnya. Lama ia menunggu, namun asap di dapur rumahnya belum juga
terlihat, dan ia pun berniat untuk pulang karena telah bosan lama menunggu, namun begitu Ia
akan keluar dari persembunyiannya, Ia mulai melihat asap di dapur rumahnya, dengan perlahan
lahan ia berjalan menuju kebelakang rumah nya untuk melihat siapa yang melakukan semua itu.
Alangkah terkejutnya dirinya ketika ia melihat siapa yang melakukan semua itu, Dia
melihat seorang Wanita yang sangat cantik dan ayu berambut panjang , dengan perlahan lahan Ia
memasuki rumahnya, dan menangkap wanita tersebut. Lalu Ia berkata, “hai .. wanita, siap kah
engkau, dan dari mana asalmu?” Wanita itu tertunduk diam, dan mulai meneteskan air mata, lalu
pemuda itu pun melihat ikannya tak lagi berada di dalam wadah.
Ia pun bertanya pada wanita itu,“hai wanita kemanakah ikan yang di dalam wadah ini?”
Wanita itu pun semakin menangis tersedu sedu, namun pemuda tsb terus memaksa dan akhirnya
wanita itu pun berkata “Aku adalah ikan yang kau tangkap kemarin” .
Pemuda itu pun terkejut, namun karena pemuda itu merasa telah menyakiti hati wanita itu
, maka pemuda tsb berkata,“Hai wanita maukah engkau menjadi Istri ku..??”, Wanita tsb terkejut
, dia hanya diam & tertunduk ,lalu pemuda tsb berkata “Mengapakah engkau diam ..!!” .
Lalu wanita tsb pun berkata , “ aku mau menjadi istri mu .. tetapi dengan satu syarat,
apakah syarat itu balas pemuda itu dengan cepat bertanya, wanita itu berkata, “Kelak jika anak
kita lahir dan tumbuh, janganlah pernah engkau katakan bahwa dirinya adalah anakni
Dekke(anaknya ikan)”.
Pemuda itu pun menyetujui persyaratan tsb dan bersumpah tidak akan mengatakannya,
Dan menikahlah mereka. Hingga mereka mempunyai anak yang berusia 6 tahunan , anak itu
sangatlah bandal (jugul) dan tak pernah mendengar jika di nasehati, Lalu suatu hari sang ibu
menyuruh anaknya untuk mengantar nasi ke ladang ketempat ayahnya, anak itu pun pergi
mengantar nasi kepada ayahnya, namun di tengah perjalanan ia terasa lapar, Ia pun membuka
makanan yang di bungkus untuk ayahnya, dan memakan makanan itu.
Setelah selesai memakannya, kemudian ia pun membungkusnya kembali dan
melanjutkan perjalanannya ketempat sang ayah, sesampainya di tempat sang ayah Ia
memberikan bungkusan tersebut kepada sang ayah, dengan sangat senang ayahnya
menerimanya, lalu ayahnya pun duduk dan segera membuka bungkusan nasi yang di titipkan
istrinya kepada anaknya, alangkah terkejutnya ayahnya melihat isi bungkusan tersebut.
Yang ada hanya tinggal tulang ikan saja,sang ayah pun bertanya kepada anaknya “hai
anakku., mengapa isi bungkusan ini hanya tulang ikan belaka”, anaknya nya pun menjawab, “ di
perjalanan tadi perutku terasa lapar jadi aku memakannya”, sang ayah pun emosi, dengan kuat ia
menampar pipi anaknya sambil berkata “Botul maho anakni dekke (betul lah engkau anaknya
ikan),”Sang anak pun menangis dan berlari pulang kerumah.,sesampainya dirumah anaknya pun
menanyakan apa yang di katakan ayahnya “mak .. olo do na di dokkon amangi, botul do au
anakni dekke (mak .benarnya yang dikatakan ayah itu , benarnya aku ini anaknya ikan)”
mendengar perkataan anaknya ibunya pun terkejut, sambil meneteskan air mata dan berkata di
dalam hati.“Suami ku telah melanggar sumpahnya,dan sekarang aku harus kembali ke alamku,”
Maka , langit pun mulai gelap , petir pun menyambar nyambar.
Hujan badai pun mulai turun dengan derasnya, sang anak dan ibu raib, dari bekas telapak
kaki mereka muncul mata air yang mengeluarkan air sederas derasnya, hingga daerah tersebut
terbentuk sebuah Danau, yang Diberi nama Danau TUBA yang berarti danau tak tau belas kasih
,tetapi karena orang batak susah mengatakan TUBA, maka danau tersebut terbiasa disebut
dengan DANAU TOBA.
ANALISIS
Konstruksi Teori Interaksionisme Simbolik
Istilah interaksionisme menjadi sebuah label untuk pendekatan yang relatif khusus pada ilmu
yang membahas tingkah laku manusia. Dasar-dasar teori interaksionisme simbolis berpedoman
pada uraian-uraian dasar dari gagasan interaksi simbolis itu sendiri. Teori interaksionisme
simbolis berada pada analisa paling akhir dari tiga dasar pemikiran yang menyertainya.
1. Manusia bertindak terhadap benda berdasarkan “arti” yang dimilikinya.
2. Asal muasal arti atas benda-benda tersebut yang muncul dari interaksi sosial yang
dimiliki seseorang.
3. Makna yang demikian ini diperlakukan dan dimodifikasikan melalui proses interpretasi
yang digunakan oleh manusia dalam berurusan dengan benda-benda lain yang
ditemuinya.
Hanya sedikit ahli yang menilai bahwa ada yang salah dalam dasar pemikiran yang pertama.
“Arti” (mean) dianggap sudah semestinya begitu, sehingga tersisih dan dianggap tidak penting.
“Arti” dianggap sebagai sebuah hubungan netral antara faktor-faktor yang bertanggungjawab
pada tingkah laku manusia, sedangkan ‘tingkah laku’ adalah hasil dari beberapa faktor. Kita bisa
melihatnya dalam ilmu psikologi sosial saat ini. Posisi teori interaksionisme simbolis adalah
sebaliknya, bahwa arti yang dimiliki benda-benda untuk manusia adalah berpusat dalam
kebenaran manusia itu sendiri. Dari sini kita bisa membedakan teori interaksionisme simbolis
dengan teori-teori lainnya, yakni secara jelas melihat arti dasar pemikiran kedua yang mengacu
pada sumber dari arti tersebut.
Dalam legenda Danau Toba terdapat ungkapan kemarahan “betullah engkau anak ikan”.Dan
berdasarkan teori simbolik mengenai tiga dasar pemikiran dapat dianalisis bahwa arti ungkapan
“betullah engkau anak ikan” menyatakan bahwa ikan disini diartikan sebagai hewan yang rakus.
Kerakusan ini keluar dari pemikiran ayah yang marah karena makanannya dimakan oleh anaknya
dan tinggal tulang-tulangnya saja. Atas dasar itulah ayah mengeluarkan ungkapan tersebut.
Selain itu ibu dianggap tidak becus mendidik anaknya.

About these ads
Posted in: Uncategorized