STRUKTUR MASYARAKAT JAWA DI KRATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, MAKAM KOTA GEDE DAN MAKAM IMOGIRI

Posted on February 5, 2011

0


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan masyarakat multicultural hal ini terlihat salah satunya dari banyaknya suku yang ada di Indonesia. Salah satu suku yang Indonesia dan dilihat paling dominan adalah suku Jawa. Masyarakat merupakan sebuah struktur yang terdiri atas saling hubungan peranan-peranan yang dijalankan warganya sesuai dengan norma yang berlaku. Dalam masyrakat jawa yang merupakan bagian dari masyarakat yang lebih luas yakni masyarakat Indonesia juga mempunyai  struktur yang sangat kompleks. struktur social dalam masyrakat jawa dapat dilihat dari bagaimana masyarakat tetap menjaga kebudayaan Jawa meskipun arus perubahan semakin gencar mengepung. Dan hal ini dapat dilihat salah satunya di DIY Yogyakarta dimana di sana terdapat Kertaon Ngayogyakato Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa. di Kraton ini terdapat masyarakat pendukung keraton yang mempunyai tugas di masa kini sebagai pelestari budaya Jawa.
Selain itu struktur social masyarakat Jawa dapat dilihat pada masyrakat dan bentuk bangunan di daerah makam Kota Gede yang merupakan salah satu makam raja Mataram selain di Imogiri. Peletakan makam juga memperlihatkan struktur klasifikasi dimana dan siapa jabatan yang paling tertinggi. Dimakam Imogiripun sama.
Kuliah Kerja Lapangan ini dimaksudkan untuk melihat bagaiamana struktur social di ketiga tempat yang ada di Yogyakarta tersebut yang sampai sekarang masih dianggap sebagai tempat yang sacral. Dan dalam penulisan laporan ini diharapkan mampu melihat bagaimana struktur social di ketiga tempat tersebut.

B.    RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
1.    Bagaimana struktur masyarakat jawa di Kraton  Yogyakarta ?
2.    Bagaimana struktur masyarakat jawa di Makam Kota Gede ?
3.    Bagaimana struktur masyarakat jawa di Makam Imogiri ?

BAB II
METODE PENELITIAN

A.    DASAR PENELITIAN
Dalam suatu penelitian ilmiah perlu didukung oleh suatu metode penelitian. Fungsi dari pada metode penelitian tersebut sangatlah penting karena merupakan faktor penentu dari proses pengumpulan informasi dan berperan penting dalam berhasil tidaknya suatu penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena dalam penelitian ini data hasil penelitian berupa data deskriptif yang tidak dihitung menggunakan rumus-rumus statistik. Sehingga untuk mendapatkan informasi dari masalah yang diteliti peneliti tidak menyebarkan angket untuk informan, tetapi melakukan wawancara mendalam dan observasi.
Dalam penelitian ini peneliti atau mahasiswa jurusan sosiologi dan antropologi semester 6 datang langsung di lapangan penelitian yaitu di tiga tempat tujuan penelitian di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yakni kraton Yogyakarata, makam imogiri dan kota gede  untuk meneliti bagaimana struktur sosial di ketiga tempat tersebut.
B.    LOKASI KULIAH  KERJA LAPANGAN
Penelitian ini dilaksanakan di Daerah Istimewa Yogyakarta yakni kraton Yogyakarata, makam imogiri dan kota gede.
C.    WAKTU PELAKSANAAN KULIAH  KERJA LAPANGAN
Kuliah Lapangan ini dilaksanakan mulai pada hari sabtu tanggal 8 Mei 2010.
D.    SUMBER DATA PENELITIAN
Dalam penelitian ini menggunakan dua sumber, yaitu informan dan  dokumentasi, dan literatur.
a)    Informan
Informan dalam penelitian ini yaitu masyarakat pendukung kebudayaan masyarakat jawa yang meliputi abdi dalem di Kraton Yogyakarta yang merangkap pula sebagai guide (pemandu) , guide / pemandu di Makam Kota Gede dan Makam Imogiri.
b)    Dokumentasi
Data yang diperoleh dari dokumentasi adalah foto. Foto yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah foto tempat obyek penelitian yakni kraton Yogyakarata, makam imogiri dan kota gede.
pada saat wawancara.
c)    Literatur
Literatur yang diperoleh peneliti dalam penelitian ini adalah buku tentang Kraton Yogyakarta, Makam Kota Gede dan Makam Imogiri yang dibeli di tempat penelitian.
E.    TEKNIK PENGUMPULAN DATA
a)    Wawancara
Dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara secara mendalam (deepth interview) untuk mengetahui bagaimana struktur pada masyarakat jawa di tiga tempat tersebut. Wawancara mendalam dalam penelitian ini merupakan suatu cara mengumpulkan data informasi secara langsung, bertatap muka dengan subjek penelitian maupun dengan informan pendukung, dengan maksud untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang diteliti. Pertanyaan diajukan berupa poin-poin pertanyaan sebagai pedoman wawancara, setelah itu poin-poin pertanyaan tersebut dikembangkan menjadi beberapa pertanyaan.
Wawancara di tunjukan kepada guide atau pemandu mengenai berbagai hal mengenai struktur social pada tempat yang diteliti.
Alat pengumpul data berupa catatan-catatan kecil dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan. Di samping itu juga terdapat daftar pertanyaan wawancara atau instrumen sebagai pedoman wawancara.
b)    Observasi
Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi non partisipasi yang disesuaikan dengan obyek atau sasaran yang diamati. Peneliti akan terjun langsung dalam masyarakat dan peneliti hanya sekedar menjadi interviewer ketika meminta informasi kepada para informan di tiga tempat lokasi penelitian.
c)    Dokumentasi
Dalam penelitian ini diperlukan adanya dokumen sebagai bukti dari adanya suatu penelitian di daerah yang diteliti. Dokumen-dokumen tersebut adalah dengan pengambilan   foto (memotret) obyek penelitaian seperti foto Kraton Yogyakarta, Foto Makam Kota Gede dan Makam Imogiri.

BAB III
PEMBAHASAN
STRUKTUR SOSIAL KRATON NGAYOGYAKARTA
DAN MASYARAKAT PENDUKUNG KEBUDAYAAN KERATON
Penelitian di Kraton Yogyakarta dilakukan pada hari Sabtu, 8 mei 2010. Dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat bagimana struktur masyarakat jawa di Kraton Yogyakarta khususnya abdi dalem sebagai masyarakat pendukung kebudayaan kraton jawa.  Keraton Yogyakarta merupakan sebuah komplek bangunan tempat tinggal Sri Sultan Hamengkubuwono dan bekas pusat pemerintahan Kasultanan Yogyakarta dengan luas wilayah 87.050 km2. Keraton Yogyakarta didirikan atas dasar Perjanjian Giyanti atau disebut juga Palihan Nagarn luas yang diadakan pada hari Kamis Kliwon, tanggal 29 Rabiulakhir 1680 Jawa atau tanggal 13 Februari tahun 1755 Masehi, di Desa Gyanti. Perjanjian giyanti menyebabkan Kerajaan mataram terbelah menjadi dua yakni Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kerajaan Surakarta.
Pada zaman mataram terdapat dua kriteria untuk menentukan kedudukan seseorang dalam stratifikasi masyarakat kerajaan Mataram tradisional. Yang pertama bahwa status atau kedudukan bangsawan seseorang ditentukan oleh  hubungan darah seseorang dengan pemegang kekuasaan yaitu raja. Yang kedua ditentukan oleh posisi atau kedudukan seseorang dalam hierarki birokrasi kerajaan. Dengan memiliki salah satu  dari kriteria itu, maka seseorang dianggap termasuk golongan elit dalam stratifikasi masyarakat tradisional kerajaan mataram. Untuk kriteria yang disebutkan pertama hanya ditempati oleh para bangsawan yaitu yang berdasarkan atas  hubungan darah.dengan pemegang atau pemilik kekuasaan yaitu raja. Sementara untuk  yang disebutkan kedua bisa berasal dari bangsawan atau non-bangsawan. Artinya bahwa seseorang, meskipun bukan bangsawan, bisa diangkat dan menduduki strata tertentu dalam birokrasi kerajaan.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin dekat hubungan darah seseorang dengan raja berarti semakin tinggi pula status kebangsawanan seseorang. Sebaliknya makin jauh hubungan darah itu dari pemegang kekuasaan, maka makin kurang murnilah darah kebangsawanannya, yang berarti semakin menurun pula derajad kebangsawanannya. Pada umumnya derajad kebangswanan itu hanya menurun kepada ahli waris raja sampai derajad keempat atau paling jauh sampai derajad kelima.
Berdasarkan peraturan yang dibuat oleh raja Mataram yaitu  Amangkurat, yang kemudian dilengkapi oleh Paku Buwana X, terdapat lima tingkatan dalam hiererki kebangsawanan yaitu:
1.    Para putra raja, termasuk dalam golongan gusti.
2.    Para cucu raja, termasuk dalam golongan bendara
3.    Para cicit raja, termasuk dalam golongan abdi sentana
4.    Para canggah, termasuk golongan bendara sentana
5.    Para wareng raja, termasuk dalam golongan abdi kawula warga
Keraton Yogyakarta merupakan komplek bangunan pusat pemerintahanan Kerajaan yang terletak di pusat ibu kota Kasultanan Yogyakarta. Kraton Yogyakarta mempunyai struktur bangunan seperti :
1.    Benteng
Di dalam benteng, selain istana Sri Sultan dan komplek Tamansari dijumpai pula bangunan-bangunan, diantaranya tempat tinggal para bangsawan, tempat tinggal Abdi Dalem dan tempat tinggal kelompok prajurit Keraton. Bekas-bekas bangunan yang sekarang masih utuh adalah dinding sisi selatan, bagian sudut tenggara, sudut barat daya dan sudut barat laut. Dilihat dari bekas-bekasnya, benteng pertahanan kota ini mempunyai denah segi empat, tiap-tiap sisinya menghadap kearah empat mata angin utama. Pada sisi utara terdapat dua buah gapura (plengkung), sedang pada sisi timur, selatan, dan barat masing-masing terdapat sebuah gapura (plengkung). Ketika dilihat sekarang terlihat di luar benteng banyak took-toko yang mayoritas adalah dimiliki oleh orang cina. Benteng-benteng tersebut nyaris tak terlihat karena tertutup pertokoan.
2.    Parit Keliling
Parit yang disebut dengan jagang merupakan saluran air yang mengelilingi pusat kota Yogyakarta kuno. Parit keliling ini terdapat disepanjang dinding benteng bagian luar dan berdenah segi empat. Panjang parit sama dengan panjang dinding benteng, yaitu tiap sisinya lebih kurang satu kilometer.
3.    Alun-alun
Alun-alun adalah tanah lapang yang terdapat di depan dan di belakang komplek Keraton, yang di depan disebut alun-alun utara, sedangkan yang di belakang disebut alun-alun Pangkeran. Alun-alun selatan berfungsi sebagai tempat latihan baris-berbaris para prajurit untuk persiapan upacara kerajaan, tempat upacara pemberangkatan jenazah dan sebagainya. Rombongan masyarakat SOSANT datang melalui alun-alun utara. Alun-alun tersebut sekarang beralih fungsi menjadi tempat berjualan kaki lima yang menjual berbagai souvenir khas Yogyakarta serta digunakan juga sebagi event-event tertentu seperti konser, pertunjukan, dan sebagainya.
4.    Masjid Agung
Bangunan masjid Agung kondisinya masih baik dan sampai saat ini masih dipergunakan sebagai tempat ibadah sholat dan upacara-upacara yang berhubungan dengan agama Islam. Di bagian depan masjid terdapat serambi yang luas dan bersuasana teduh, sedangkan di halaman masjid terdapat bangunan yang disebut pagongan, tempat untuk menyimpan gamelan Sekaten yang digunakan sejak berabad-abad lamanya untuk mengumpulkan masyarakat sekitar. Masjid Agung Yogyakarta memiliki perpaduan arsitektur bernafaskan Islam dan Jawa. Dibeberapa bagian masjid terdapat ukiran kayu dan tulisan aksara Jawa.

5.    Tamansari
Tamansari adalah sebuah komplek yang berisi bangunan, kolam, kebun, dan taman. Tamansari didirikan tahun 1765 Masehi oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Adapun fungsi Tamansari sebagai tempat berekreasi, bercengkrama atau bersenang-senang Sri Sultan dengan seluruh keluarganya. Peninggalan-peninggalan di dalam komplek Tamansari dapat dikategorikan berupa gapura, gedung, kolam-kolam kecil, urung-urung dan kolam segaran.
Ketika menginjak masuk, halaman yang satu dengan halaman yang lain dipisahkan oleh dinding penyekat dan dihubungkan dengan pintu gerbang. Ketujuh buah halaman tersebut masing-masing berisi bangunan dan nama-nama halaman kebanyakan disesuaikan dengan nama bangunan yang terdapat didalamnya. Adapun halaman yang terdapat di Keraton Yogyakarta, antara lain :
1.    Halaman sitihinggil utara
2.    Halaman kemandungan utara
3.    Halaman srimanganti
4.     Halaman pusat Keraton Yogyakarta
5.     Halaman kemagangan
6.    Halaman kemandungan selatan
7.    Halaman sitihinggil selatan
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menunjukkan bahwa istana (keraton) menjadi pusat kehidupan tradisional Masyarakat Jawa. Sehingga dapat dikatakan Pusat dari segala kebudayaan Jawa yang terkenal adiluhung itulah di kota Yogyakarta dengan pusatnya  Kraton Yogyakarta. Di Kraton ini terdapat berbagai struktur sosial yang sangat jelas dengan Raja sebagai pimpinan struktur paling atas. Hal ini seperti disampaikan oleh  Abdurrachman (2000 : 27) yaitu bahwa di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terdapat sebuah sistem yang terbentuk dari komponen-komponen sesuai dengan susunan-susunan kelas yang terdiri dari :
a.    Lapis pertama: Sultan.
Sultan bertugas sebagai kepala pemerintahan yang berkuasa di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
b.    Lapis kedua : Kerabat Keraton atau Sentana Keraton.
Kerabat Keraton merupakan keturunan dari Raja yang mempunyai keistimewaan dalam bidang-bidang tertentu.
c.    Lapis ketiga : Pekerja Administrasi Kasultanan maupun pemerintahan (Abdi Dalem atau Kaum Priyayi).
Abdi Dalem bertugas sebagai pegawai Keraton yang bekerja sesuai dengan jenjang kepangkatan atau gelar mereka.
d.    Lapis keempat : Golongan Wong Cilik.
Golongan wong cilik merupakan rakyat biasa yang patuh dan hormat terhadap Raja.
Dalam penelitian lapangan di Yogyakarta kita tidak mungkin dapat bertrmu dengan raja, karena raja di pandang sangat sacral dan tidak setiap rakyat kecil (wong cilik) atau masyarakat umum dapat secara bebas bertemu dengan raja. Sehingga dalam kuliah lapangan hanya bertemu dengan abdi dalem yang memandu pengunjung memutari keraton.
Dilihat dari struktur tersebut Abdi dalem menempati lapis ketiga. Posisi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan wong cilik. Bagi mereka menjadi abdi dalem adalah sebuah kebanggan karena mampu secara langsung dapat mengabdi kepada raja. Menurut mereka abdi dalem merupakan suatu pengabdian yang dituturkan sebagai  abdining kanjeng sinuwun, yaitu abdinya Sultan, dan dapat diartikan sebagai suatu kesetiaan kepada Sultan dan penguasa alam ini, setia terhadap yang menguasai keadaan alam ini dan setia dengan penguasa yang dapat diartikan sebagai Raja KeratonYogyakarta. Abdi dalem Kraton sudah ada dan melayani Sultan sejak berdirinya kerajaan ini.  Raja sebagai pemimpin tidak melihat abdi dalem sebagai hubungan antara pimpinan dan bawahan, melainkan abdi dalem sebagai seseorang yang mengabdi kepada budayanya.  Pesan ini dapat ditemukan dicorak pakaian Pranakan yang dikenakan oleh mereka.  188 tahun yang lalu ketika Sri Sultan Hamengkubuwana V(1820-1855) menciptakan pakaian untuk para abdi.  Warna biru tua yang melekat, dengan corak garis vertikal berjumlah tiga dan empat garis memiliki makna dalam.  Garis  berjumlah tiga dan empat memiliki arti Telupat yang bermakna Kewuluminangka Perpat yang artinya di rengkuh dan disaudarakan dalam satu kesatuan di kerajaan.  Sifat persaudaraan yang diharapkan adalah persaudaraan sesama abdi dalem dan persaudaraan dengan Sri Sultan raja mereka.  Abdi ingin merasa dekat dengan raja mereka, ini disimbolkan dengan pakaian pranakan yang berwarna biru tua yang artinya memiliki tekat yang kuat dan kesungguhan hati dalam pengabdian terhadap raja mereka. Melihat pakaian badi dalem tersebut merupakan symbol bagaimana mereka dengan keikhlasan mengabdi kepada raja.
Abdi dalem juga mempunyai tingkatan dan struktur organisasi dan pembagian tugas diantara mereka. Para abdi dalem bekerja dibawah koordinir Pengageng. Pengageng membawahi personalia dari setiap tepas (kantor) dan caos (piket). Struktur sistem tersebut menunjukkan bahwa permasalahan yang ada di Keraton cukup banyak dan rumit. Oleh karena itu dibuat koordinator yang masing-masing membawahi bagian kerja yang saling berkaitan. Masing-masing bagian itu memiliki carik (sekretaris) yang bertugas dalam :
• Mengelola pembagian gaji
• Mengelola absensi
• Mengelola jalannya bagian kerja
• Menerima dan melayani tamu
• Melaksanakan tugas dan kesekretariatan
Masing-masing Kawedanan Hageng, tepas dan koordinator dipimpin oleh kerabat Sultan. Sementara itu, pelaksana tugas masing-masing kawedanan dan tepas tersebut dilaksanakan oleh pegawai Keraton yaitu Abdi Dalem. Dalam struktur organisasi tersebut, masing-masing komponen memiliki tugas. Tugas- tugas itu dikerjakan dengan ikhlas dan penuh rasa tanggung jawab terhadap pemimpinnya yaitu Sultan. Abdi Dalem Keraton Yogyakarta jumlahnya mencapai ribuan orang bahkan lebih dengan berbagai tugas dan pengabdiannya masing-masing. Oleh karena itu Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dibagi dalam beberapa jenis serta tugasnya (Afrianto, 2002 : 40), yaitu :
1.    Abdi Dalem Punokawan
Yaitu Abdi Dalem yang berasal dari rakyat biasa bukan Pegawai Pemda DIY. Mereka sengaja ingin mengabdikan diri di Keraton Yogyakarta dan Sri Sultan.
Abdi Dalem Punokawan dibagi menjadi dua, yaitu :
a.    Abdi Dalem Punokawan Sowan
b.    Abdi Dalem Punokawan Caos
2.    Abdi Dalem Keparak
Yaitu Abdi Dalem perempuan yang umumnya menunaikan kewajibannya di Keraton kilen (keputren). Abdi Dalem Keparak umumnya bertugas menyiapkan piranti seperti sesaji kalau ada acara-acara Upacara Keraton.
Abdi Dalem bekerja dengan prinsip sukarela, artinya mereka mau melakukan pekerjaan apa saja atas kemauan sendiri dengan gaji yang sangat kecil. Mereka bekerja di Keraton dengan prinsip rame ing gawe sepi ing pamrih untuk mendapat berkah dalem. Sehingga dengan kata lain mereka tidak mengukur pengabdian mereka dari aspek material. Secara lahiriah jika dilihat besar gaji Abdi Dalem dari Keraton tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Abdi Dalem dan keluarga, tetapi mereka tetap mau bekerja di Keraton. Gaji yang diterima mereka berkisar Rp. 15.000,-Rp. 50.000.
Disana kita melihat abdi dalem yang bertugas sebagai guide. Abdi Dalem guide di Keraton berbeda dengan guide yang berada ditempat wisata pada umumnya, karena kebanyakan mereka memandu pengunjung dengan penuh ikhlas tanpa mengharap imbalan. Dan jika ada pengunjung yang memberi uang tip untuk Abdi Dalem guide maka mereka akan menerima apa adanya tanpa meminta tambahan lagi. Semua itu karena pengabdian yang tulus, walaupun mereka harus mendapat tambahan jam kerja. Pakaian yang digunakan oleh abdi adlem adalah pakaian beskap. Adapun pakaian yang digunakan ketika mengahdap raja dijelaskan oleh Margana yaitu :
1.    Pakaian abdi dalem punakawan yang mengahadap pada hari senin-kamis atau harian adalah baju beskap atau pranukan atau embagi. Pada saat pasowanan senin kamis baju pranakan sembagi dibuka.
2.    Abdi para bendoro pangeran atau lainya yang ikut mengahdap masuk berpakaian kulukan , baju sikepan kampuhan dan diijinkan memakai keris. Kampuhan diijinkan memakai keris apabila kulukan baju jawa diperbolehkan memakai keris . (margana 2004 : 97)
Ketika mengunjungi keraton abdi dalem memakai pakaian beskap dan blangkon khas Yogyakarta. Mereka tidak memakai sandal melainkan beralas kaki ketika memandu para wisatawan. Bagi mereka pasir di keraton itu suci.
Bahasa yang digunakan abdi dalem guide adalah bahasa Indonesia karena tidak semua pengunjung mengerti bahasa jawa. Sedangkan bahasa yang diucapka kepada Raja adalah bahasa Jawa yang tingkatanya sangat tinggi yakni bahasa jawa kromo alus.

STRUKTUR SOSIAL MAKAM RAJA-RAJA
DI IMOGIRI
Makam Imogiri dibangun pada tahun 1632 M oleh Sultan Mataram III Prabu Hanyokrokusumo yang merupakan keturunan dari Panembahan Senopati Raja Mataram I. Raja-raja jaman dahulu sebagian besar bersifat sentralistik, dalam segala aspek kehidupan mengacu kepada kekuasaan tunggal yaitu Sang Maharaja. Setiap Kadipaten diwajibkan memberikan upeti kepada kerajaan, jangan coba-coba menolak membayar upeti ini kalau tidak mau diserbu dan dimusnahkan. Kehidupan Sang Raja menjadi perhatian utama para kawula saat itu, hingga tempat pemakakannya pun sudah dipersiapkan jauh-jauh hari waktu sang raja masih hidup. Inilah skema makam imogiri yang dapat dilihat adanya struktur dan stratifikasi dalam penempatan makam :

A = KASULTAN AGUNGAN
1.    Sri Paduka Sultan Agung
2.    Sri Ratu Batang
3.    S.P. Hamangkurat Amral
4.    S.P. Hamangkurat Mas
B = PAKU BUWANAN
1.    S.P. Paku Buwana ke I
2.    S.P. Hamangkurat Jawa
3.    S.P. Paku Buwana ke II
C = KASUWARGAN YOGYAKARTA
1.    S.P. Hamengku Buwana ke I
2.    S.P. Hamengku Buwana ke III
D = BESIYARAN YOGYAKARTA
1.    S.P. Hamengku Buwana ke IV
2.    S.P. Hamengku Buwana ke V
3.    S.P. Hamengku Buwana ke VI
E = SAPTORENGGO YOGYAKARTA
1.    S.P. Hamengku Buwana ke VII
2.    S.P. Hamengku Buwana ke VIII
3.    S.P. Hamengku Buwana ke IX
F = KASUWARGAN SURAKARTA
1.    S.P. Paku Buwana ke III
2.    S.P. Paku Buwana ke IV
3.    S.P. Paku Buwana ke V
G = KAPINGSANGAN SURAKARTA
1.    S.P. Paku Buwana ke VI
2.    S.P. Paku Buwana ke VII
3.    S.P. Paku Buwana ke VIII
4.    S.P. Paku Buwana ke IX
H = GIRIMULYA SURAKARTA
1.    S.P. Paku Buwana ke X
2.    S.P. Paku Buwana ke XI
3.    S.P. Paku Buwana ke XII

Sedangkan silsilahnya dari riwayat makam – makam imogiri sendiri dari kerajaan Majapahit yaitu :
I.    Sinuhun Browijoyo raja Majapahit yang terakhirnya berputra Raden Bondan Kejawen ( Lembu Peteng ), bergelar K. Ageng Tarub ke II.
II.    K. Ageng Tarub ke Iiberputra K. Ageng Getas Pandowo.
III.    K. Ageng Getas Pandowo berputera K. Angeng Sela.
IV.    K. Ageng Sela berputra K.Ageng Nis
V.    K. Ageng Nis berputra K. Angeng Pemanahan ( K. Ageng Mataram )
VI.    K. Ageng Pemanahan berputra K. Ageng Panembahan Senopati Ing Ngalogo bertahta di kerajaan Mataram.
VII.    K. Panembahan Senopati Ing Ngalogo berputra Sinuhan Prabu Hanyokrowati ( Sinuhun Seda Krapyak ).
Tetapi di dalam struktur masyarakat yang berada sekitar makam imogiri sendiri dalam stratifikasi masyarakatnya tidak adanya posisi yang mencolok diantara anggota masyarakatnya. Dilihat dari mata pencahariannya kebayakan dari kalangan pedagang yang membuka jasa bagi pengunjung. Hal ini terlihat dari adanya warung – warung yang menjual makanan seperti pecel dan wedang uwuh. Dan ada juga yang membuka jasa parkir, serta jasa kamar mandi dan wc umum, walaupun ada juga yang bertani hal ini terlihat dari masih adanya sawah serta kebun minyak kayu putih.
Kecamatan Imogiri sendiri beriklim layaknya daerah dataran rendah di daerah tropis dengan cuaca panas sebagai ciri khasnya. Suhu tertinggi di kecamatan Imogiri adalah 26 derajat celcius. Kecamatan Imogiri di huni oleh 13.119 KK. Jumlah keseluruhan penduduk Imogiri adalah 56.357 orang dengan jumlah penduduk laki – laki  27.291 orang dan penduduk perempuan 29.966 orang. Tingkat kepadatan penduduk di Kecamatan Imogiri adalah 1.954 jiwa/km2. Sebagian besar penduduk Imogiri adalah petani dan ada juga sentra industri seperti Pocung Wukirsari merupakan sentra kerajinan tatah sungging, Giriloyo Wukirsari merupakan sentra kerajinan batik , Banyusumurup yang merupakan sentra kerajinan keris, dan Imogiri sendiri merupakan sentra sentra pembuatan makanan keripik tempe. Dan pariwisata pun merubah struktur masyarakat imogiri.
Kawasan ini merupakan kawasan pelindung dan penyangga bagi kehidupan masyarakat sekitar dan merupakan “pagar hidup” dari keberadaan kompleks makam Raja-Raja Mataram Islam yang meliputi makam raja-raj dan kerabat keluarga dari Keraton Kasultanan Yogyakarta/ Kasunanan Solo, Makam Seniman dan makam penduduk sekitar. Permasalahan yang dihadapi kaitannya dengan keberadaan kawasan  Imogiri adalah bahwa kawasan tersebut berbatasan dengan lingkungan keramaian/aktivitas umum (tempat rekreasi dan ziarah), sehingga untuk kawasan yang berada di pinggir hampir bisa dipastikan akan dirambah oleh masyarakat/pengunjung. Para pengunjung biasanya masuk kawasan untuk kegiatan out bond atau sekedar untuk jalan-jalan di hutan. Dengan banyaknya pengunjung yang sudah masuk ke kawasan bisa dipastikan akan terjadi gangguan terhadap ekosistem dan kondisi fisik kawasan minimal adalah pemadatan tanah dan pengrusakan terhadap pohon-pohon yang masih kecil. Kendala lain adalah adanya pemanfaatan lahan di kawasan  Imogiri untuk mendirikan bangunan semi permanen sebagai tempat tinggal salah satu keluarga pensiunan pegawai Dinas Kehutanan Provinsi DIY seluas 0,04 ha dan untuk pemakaman umum sekitar 0,025 ha. Pemanfaatan tersebut sudah terjadi sejak kawasan hutan masih berfungsi sebagai kawasan hutan produksi. Selain itu juga tejadi beberapa aktivitas penggembalaan ternak, perencekan dan pengambilan hijauan ternak khususnya di daerah yang berbatasan dengan pemukiman. Beberapa aktivitas perburuan khususnya perburuan burung juga sering terjadi di kawasan ini.
Secara umum letak dari makam imogiri sendiri yang terletk di bukit sudah menunjukan adanya struktur social dalam masyarakat jawa yang menempatkan makam seorang raja dan kluarganya yang berbeda dari masyarakat kebanyakan yang berarti status social mereka lebih tinggi dari anggota masyarakat yang lainnya. Pajimatan Imogiri merupakan makam raja-raja Mataram (Surakarta dan Yogyakarta) yang terletak 17 kilometer ke arah selatan dari Kota Yogyakarta melalui Jalan Pramuka – Imogiri. Di kawasan itu bagi warga masyarakat disediakan lapangan parkir yang terletak di sebelah barat gerbang masuk sebelum naik tangga. Sedangkan bagi kerabat istana dan tamu VIP disediakan parkir di bagian atas mendekati makam sehingga tidak perlu meniti tangga. Mitos setempat menyatakan bahwa barang siapa bisa menghitung jumlah tangga secara benar  maka cita-citanya akan terkabul.
Setelah melewati  tangga kemudian kita baru masuk pintu ke II, di pintu II ini ada 3 bangsal; yang pertama adalah Bangsal Sapit Urang-bangsal yang dipergunakan oleh para abdi dalem keraton Jogja; yang kedua adalah Bangsal Hamengkubuwono untuk para Bangsawan Jogja; dan yang ketiga adalah Bangsal Pakubuwono untuk para Bangsawan dari Keraton Solo. Seperti kita ketahui bahwasannya pada masa Amangkurat V ( 1677 ) Mataram mengalami perpecahan dan akhirnya dibuatlah Perjanjian Giyanti yang membelah Mataram jadi II, yaitu Kasunanan Pakubuwono ( Solo ) dan Kasunanan Hamengkubuwono ( Jogja )
Memasuki tempat pemakaman masih dibagi lagi menjadi tiga bagian, makam utama; yaitu makam Sri Paduka Sultan Prabu Hanyokrokusumo, Amangkurat II, Amangkurat III beserta masing-masing satu permaisurinya. Sayap kiri terdiri dari; Pakubuwono I, Amangkurat Jawi dan Pakubuwono III. Sayap kanan terdiri dari: Ratu-ratu solo, pakubuwono III beserta selir dan permaisurinya. Dari pengaturan letak makam-makam tersebut terlihat bahwa ada suatu tingkatan terndiri antara raja-raja yang dimakamkan disana, terlihat bahwa Sri Paduka Sultan Prabu Hanyokrokusumo menempati posisi tertinggi diantara raja-raja yang lain yang dimakamkan di makam tersebut.
Tata cara memasuki makam di tempat itu sama dengan di Astana Kotagede, dimana setiap pengunjung diharuskan memakai pakaian tradisonil Mataram, pria harus mengenakan pakaian peranakan berupa beskap berwarna hitam atau biru tua bergaris-garis, tanpa memakai keris, atau hanya memakai kain/jarit tanpa baju. Sedangkan bagi wanita harus mengenakan kemben. Perlu diketahui bahwa selama berziarah pengunjung tidak diperkenankan memakai perhiasan. Bagi para peziarah yang tidak mempersiapkan pakaian dimaksud dari rumah bisa menyewa pada abdi dalem sebelum memasuki komplek makam. Bagi kerabat istana khususnya putra-putri raja ada peraturan tersendiri, pria memakai beskap tanpa keris, puteri dewasa mengenakan kebaya dengan ukel tekuk, sedangkan puteri yang masih kecil memakai sabuk wolo ukel konde.
Menurut buku Riwayat Pasarean Imogiri Mataram, Makam Imogiri memang sejak awal telah disiapkan oleh Sultan Agung dengan susah payah. Diceritakan Sultan Agung yang sakti itu setiap Jumat sholat di Mekkah, dan akhirnya ia merasa tertarik untuk dimakamkan di Mekkah. Namun karena berbagai alasan keinginan tersebut ditolak dengan halus oleh Pejabat Agama di Mekkah, sebagai gantinya ia memperoleh segenggam pasir dari Mekkah. Sultan Agung disarankan untuk melempar pasir tersebut ke tanah Jawa, dimana pasir itu jatuh maka di tempat itulah yang akan menjadi makam Sultan Agung. Pasir tersebut jatuh di Giriloyo, tetapi di sana Pamannya, Gusti Pangeran Juminah (Sultan Cirebon) telah menunggu dan meminta untuk dimakamkan di tempat itu. Sultan Agung marah dan meminta Sultan Cirebon untuk segera meninggal, maka wafatlah ia. Selanjutnya pasir tersebut dilemparkan kembali oleh Sultan Agung dan jatuh di Pegunungan Merak yang kini menjadi makam Imogiri.
Raja-raja Mataram yang dimakamkan di tempat itu antara lain : Sultan Agung Hanyakrakusuma, Sri Ratu Batang, Amangkurat Amral, Amangkurat Mas, Paku Buwana I, Amangkurat Jawi, Paku Buwana II s/d Paku Buwana XI. Sedangkan dari Kasultanan Yogyakarta antara lain : Hamengku Buwana I s/d Hamengku Buwana IX, kecuali HB II yang dimakamkan di Astana Kotagede.
STRUKTUR MASYARAKAT DI KOTAGEDE

Secara administratif Kotagede termasuk dalam sebagian wilayah Kota Yogyakarta, yaitu Kelurahan Prenggan dan Purbayan, sebagian lagi termasuk dalam wilayah Kabupaten Bantul, yaitu Desa Jagalan. Menurut data hasil studi dalam International Symposium and Workshop for Asia and West Pacific Network Urban Consevation (AWPNUC,1996) bangunan rumah tinggal yang berfungsi sebagai tempat usaha di sekitar Jl. Mondorakan ada sejak tahun 1870. Industri kerajinan perak di kelurahan Prenggan terkenal sejak tahun 1920, sehingga sepanjang Jl. Kemasan terlihat dominasi usaha perdagangan kerajinan perak.

Jaringan jalan terbentuk akibat lalu lintas perdagangan, berorientasi ke Pasargede. Panembahan Senopati sebagai penguasa Mataram sejak tahun 1575 M, mulai mengembangkan kawasan Kotaraja Mataram dengan membangun benteng mengelilingi Dalem dari bahan batu kapur dan selesai tahun 1592 M. Gempa bumi besar tanggal 10 Juni 1867 M pada masa pemerintahan Hamengku Buwono VII, merobohkan 1166 bangunan rumah, termasuk pagar keliling komplek Masjid Ageng Mataram. Perumahan tradisional milik keturunan keluarga pengikut Pangeran Diponegoro yang dibangun sekitar tahun 1830 M setelah selesainya perang tetap utuh dan saat ini lebih dikenal dengan nama “between two gates”. Periode setelah tahun 1867 M sampai tahun 1934 M diidentifikasi sebagai masa pembangunan kembali bangunan-bangunan yang rusak akibat gempa di kawasan Kotagede. Pemugaran Makam Hastorenggo oleh Hamengku Buwono VIII diresmikan  4 Agustus 1934 M sebagai pertanda masa pembangunan kembali kawasan Kotagede. Tanggal 27 Mei 2006 terjadi gempa besar lagi yang menyebabkan beberapa bangunan di    Kotagede roboh.

Kotagede sebagai sebuah unit geografis yang bersejarah, pada awal abad ke-20 tidak lagi menunjukkan dirinya sebagai sebuah ibukota dari salah satu bekas ibukota kerajaan Mataram Islam abad ke-17. Kecuali nama yang melekat pada wilayah ini yaitu : masjid, makam, dan legenda yang terus hidup di dalam masyarakatnya. Tembok-tembok kota dan tata ruang kota yang ditersisa pada awal abad ke-20 tidak lagi menunjukkan masa lalu sebuah Kotaraja. Perpindahan pusat kerajaan Mataram dari Kotagede telah menjadikan salah satu kota yang dibangun dalam konsep lokal itu berubah identitas menjadi kota para abdi dalem yang bertugas menjaga makam dan masjid kerajaan. Status khusus itu tidak berubah setelah palihan nagari tahun 1775 (perjanjian Gianti), ketika wilayah Kotagede dibagi dua mengikuti pembagian kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Pada masa Perang Diponegoro di dekade ke tiga abad ke-19, beberapa perubahan mulai terjadi di dalam masyarakat Kotagede. Selain abdi dalem yang sangat dihormati karena fungsi kulturalnya, lapisan atas kota ini diisi oleh interprenur dari luar yang masuk ke Kotagede untuk meneruskan aktivitas ekonomi mereka Kelompok perajin dan pedagang di Kotagede secara perlahan mulai berkembang dan secara sosio-kultural memiliki ikatan yang kuat dengan kraton.
Perubahan besar terjadi setelah reorganisasi Praja Kejawen tahun 1910. Penghapusan pemilikan tanah yang mengiringi reorganisasi itu mengakibatkan abdi dalem kehilangan sumber ekonomi sehingga tidak mampu bersaing dengan perajin. Kemampuan ekonomi sebagian besar abdi dalem jatuh ke level buruh harian dan petani. Abdi dalem itu masih dihormati karena posisi sebagai penjaga tempat-tempat suci dan dianggap sebagai simbol budaya dalam hubungan antara Kotagede dengan keraton. Perubahan itu dapat dilihat pada komposisi demografis kota ini pada awal dekade ketiga abad ke-20. Data tahun 1922 dari 1073 pemilik rumah di Kotagede, 19,7% merupakan pedagang beserta perajin kaya dan 63,1% adalah perajin dan pedagang eceran. Abdi dalem bersama-sama pegawai pemerintah berjumlah 8,5%, buruh dan petani berjumlah 8,7%.
Keadaan itu mengakibatkan sektor non-pertanian di Kotagede berkembang sangat cepat pada awal abad ke-20. Kotagede berkembang menjadi pusat industri yang dikuasai oleh interprenur bumiputera. Kotagede sedang berubah dari kota para perajin kerajaan menjadi pusat industri dan perdagangan bumiputera untuk mendukung para petani di daerah sekitarnya. Jumlah buruh yang dipekerjakan di Kotagede bertambah besar sejak awal abad ke-20. saudagar dan pemilik perusahaan kerajinan mempekerjakan penduduk lokal maupun pekerja yang datang dari luar Kotagede
.
Pekerja dan pemilik modal memiliki peran yang penting dalam transformasi perbedaan ideologi di Kotagede sejak tahun 1920-an. Masyarakat tidak lagi terbagi menjadi santri dan abangan, tetapi juga antara Islam dan komunisme. Pembagian itu tidak didasarkan pada perbedaan kelas sosial, antara pekerja dan pemilik modal melainkan sifat politis ideologis yang melintasi batas kelas. Kotagede secara tradisional dikenal sebagai pusat kegiatan Muhammadiyah yang memiliki kecenderungan berlawanan dengan komunisme yang mampu menggalang dukungan kuat dari penduduk lokal di Kotagede. Konfrontasi terbuka terjadi antara kedua kelompok tersebut pada tahun 1924. Kondisi ekonomi penduduk Kotagede terkena pengaruh resesi ekonomi tahun 1930-an. Pedagang dan perajin Kotagede banyak mengalami kebangkrutan karena sebagian besar pembeli potensial juga mengalami krisis yang sama. Ekonomi Kotagede didukung oleh berkembangnya bisnis baru yang berkaitan dengan daur ulang alat-alat yang terbuat dari perak, tembaga, kuningan, dan perunggu segera setelah masa tersulit dari krisis telah dilewati.
Alun-alun Kotagede diduga berada di luar benteng Dalem, karena saat ini juga masih dapat dilihat keberadaan pagar keliling berupa pasangan batu putih yang berada di antara kampung Dalem dan kampung Alun-alun, sementara lokasi Pasargede berada lebih jauh lagi dari Dalem Kedaton, yaitu di sebelah utara lokasi kampung Alun-alun. Gambaran kegiatan pasar saat itu, sesuai arti pasar menurut tata bahasa Jawa kuno yaitu sebuah tanah lapang atau ruang terbuka dengan beberapa pohon sebagai tempat berteduh penjual. Disimpulkan lokasi pasar saat ini merupakan situs sejarah yang harus dijaga dan dipelihara kelestariannya, apalagi berada di kawasan konservasi Kotagede.
Karakteristik komponen di Kotagede, meliputi the road system, the wall, the canal, the market, the Mosque, the square (alun-alun), the Dalem Kraton or Palace and settlements with some toponimies. Situs tinggalan sejarah merupakan artefak yang jauh dari jangkauan kehidupan masa kini (modern), tetap terjaga keasliannya sebagaimana masyarakat Kotagede yang tetap hidup pada masa lalunya, sehingga dalam mengembangkan kawasan tidak bisa hanya berlandaskan nilai material saja tetapi harus memperhatikan nilai-nilai yang tetap dilestarikan oleh warga lokal.
Perubahan tata ruang di Kotagede terjadi sejak periode 1910 M akibat perubahan status kepemilikan tanah setelah tumbuhnya gerakan kebangkitan nasional dan gerakan Islam modern di Kotagede. Periode selanjutnya antara tahun 1930 sampai tahun 1960 Kotagede mengalami penurunan sektor ekonomi, baru bisa bangkit kembali setelah tahun 1960 ditandai oleh kebangkitan usaha dari kelompok pengusaha baru dibidang kerajinan perak dan usaha perdagangan. Terjadi pula pemanfaatan lahan di dalam situs Dalem untuk perumahan yang berani meninggalkan kaidah arsitektur tradisional dengan konsep kosmologis Islam-Jawa. Pergeseran dan perubahan tata nilai ini sejalan waktu serta bersifat alamiah, sedangkan yang harus diantisipasi bila bersifat destruktif.

BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pemaparan laporan Kuliah Kerja Lpangan diatas dapat ditarik kesimpulan antara lain :
1.    Struktur dalam Kraton Ngayogyakarta hadiningrat antara lain dapat dilihat dari bentuk bangunan yang mempunyai struktur-struktur dan semuanya mempunyai makna antara laina adalah Benteng yang di dalamnya terdapat  istana Sri Sultan dan komplek Tamansari dijumpai pula bangunan-bangunan, diantaranya tempat tinggal para bangsawan, tempat tinggal Abdi Dalem dan tempat tinggal kelompok prajurit Keraton. Parit Keliling, Alun-alun dengan jumlah pohon beringin berjumlah 64 yang merupakan symbol usia nabi Muhamad SAW. Masjid Agung dan Tamansari. Selain itu masyrakat pendukung keraton juga mempunyai struktur-struktur dan pembagian tugas. Para abdi dalem bekerja tanpa mengharapkan imbalan. Gaji mereka tidak menyukupi untuk kebutuhan sehari-hari tetapi mereka tetap mengabdi. Hal ini dapat dikaitkan dengan unsure-unsur selain material. Mereka beranggapan mengabdi kepada raja sudah merupakan berkah.
2.    Struktur dalam makam imogiri sendiri secara umum letak dari makam imogiri sendiri yang terletk di bukit sudah menunjukan adanya struktur social dalam masyarakat jawa yang menempatkan makam seorang raja dan kluarganya yang berbeda dari masyarakat kebanyakan yang berarti status social mereka lebih tinggi dari anggota masyarakat yang lainnya. Di kawasan itu bagi warga masyarakat disediakan lapangan parkir yang terletak di sebelah barat gerbang masuk sebelum naik tangga. Sedangkan bagi kerabat istana dan tamu VIP disediakan parkir di bagian atas mendekati makam sehingga tidak perlu meniti tangga. Mitos setempat menyatakan bahwa barang siapa bisa menghitung jumlah tangga secara benar  maka cita-citanya akan terkabul.
3.    Secara administratif Kotagede termasuk dalam sebagian wilayah Kota Yogyakarta, yaitu Kelurahan Prenggan dan Purbayan, sebagian lagi termasuk dalam wilayah Kabupaten Bantul. Struktur dalam makam kota gede ditunjukan dengan keberadaan makam para raja yang membedakanya dengan masyrakat lainya. Bentuk bangunan sudah terlihat bagimana keberadaan makam tersebut memiliki struktur.
B.    Saran
Bertolak dari kesimpulan di atas maka penulis mengajukan beberapa saran, diantaranya :
1.     Para mahasiswa Sosiologi dan Antropologi dapat menjadikan Kuliah kerja lapangan di Yogyakarta ini pelajaran yang sangat berharga mengenai salah satu kebudayaan yang sampai saat ini masih dilakukan oleh masyrakat khususunya masyrakat Jawa.
2.     Penelitian-penelitian mengenai kebudayaan perlu lebih banyak dilakukan untuk mendalami kebudayaan Jawa.

DAFTAR PUSTAKA
Margana, S. 2004. Kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Hadiatmaja, Murdani. 1978. Arti Kraton Yogyakarta. Yogyakarta : Museum Kraton Yogyakarta
Magnis Suseno, Fransz. 2001. Etika Jawa (Sebuah Analisa Falsafati tentang
Kebijaksanaan Hidup Jawa). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
http // www. tembi org / keraton yogya / htmx. mantrigawen.
http // www. com / vision. net . id / keraton yogyakarta (5 juni 2010)
http // www. Com /geonation. Com / abdi dalem (5 juni 2010)

LAMPIRAN

Kraton Ngayogyakata Hadiningrat

Masjid di Makam Kota Gede

Makam Imogiri

Posted in: Uncategorized